Thursday, January 1, 2009

Bisnis Bibit: Solomon Dicari!

Dua bulan terakhir, dering telepon seluler Agus Sumarmo tak kunjung reda. Penelepon dari berbagai kota itu meminta bibit sengon solomon. Jika ditotal permintaan mereka mencapai 500-ribu bibit. Sejak pertengahan 2008 bisnis kayu sengon memang mencuat sehingga banyak pekebun yang berniat menanam.

Pekebun lebih memilih sengon solomon lantaran pertumbuhannya cepat. Menurut Dr Ir Eko Bhakti Hardiyanto, peneliti sengon Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, diameter solomon mencapai 16 cm pada umur 2,5 tahun; sengon lokal berdiameter 10 cm. Solomon dipanen pada umur 5 tahun berdiameter 35 cm; lokal hanya 20 cm. Dengan kelebihan itu solomon diburu calon pekebun. Itu sebabnya harganya melambung Rp2,5-juta/kg benih atau 50 kali lipat dibanding sengon lokal yang berharga Rp35.000-Rp50.000/kg.

Agus, produsen bibit di Pringsurat, Temanggung, Jawa Tengah, saat ini belum bisa memenuhi permintaan bibit sengon jenis solomon. 'Calon pohon induknya baru berumur 2,5 tahun,' tutur pemilik 40 pohon sengon solomon itu. Menurut Agus meski belum banyak tersedia benih solomon, pekebun tak urung mewujudkan keinginannya berkebun sengon. Itu terlihat dari permintaan terhadap benih dan bibit sengon lokal pun meningkat tajam.

Tercatat sejak Oktober 2007 sampai Januari 2008 Agus melayani permintaan sebanyak 19.000 bibit. Bibit berukuran 40-50 cm itu dijual Agus Rp550/pohon; 100 cm, Rp1.500. 'Menjelang musim hujan permintaan bibt sengon naik hingga 300%,' tambahnya. Dari perniagaan bibit sengon ayah 2 anak itu berpendapatan bersih rata-rata Rp12.350.000 per bulan.

Degradasi hutan
Menurut Agus biaya memproduksi bibit lokal relatif murah. Ia membeli benih-berupa buah tua yang matang berwarna cokelat-dari pekebun di Magelang, Jawa Tengah. Untuk satu kilogram benih harganya Rp50.000, berisi sekitar 30.000 buah. 'Biaya produksi sebuah bibit Rp375,' kata Agus. Itu meliputi pembelian benih, media tanam, dan perawatan selama 4 bulan. Dengan harga jual Rp550 berarti labanya Rp175 per bibit. Sedangkan yang berukuran 1 m mendatangkan keuntungan Rp 1.000. Dari 1 kg benih dengan daya tumbuh 80% dan tingkat kematian 20%, Agus meraih keuntungan Rp7-juta.

Agus melihat bisnis bibit sengon cukup menjanjikan lantaran pasarnya terbuka dan risiko kematiannya rendah. Itu pula yang dirasakan Rusnandi, produsen di Panawangan, Ciamis, Jawa Barat. Dalam sehari Rusnandi mampu menjual 500 bibit setinggi 50 cm. Dengan harga jual Rp500 per bibit, omzetnya Rp250.000 sehari atau minimal Rp5-juta sebulan. Rusnandi menjual bibit sengon berumur 4 bulan di Pasarmanis, Ciamis di lapak berukuran 8 m x 8 m.

Ia berjualan di pasar hanya pada Rabu. Hari-hari biasa pria berusia 45 tahun itu menjual di halaman rumah. Sependapat dengan Agus menjelang musim tanam dari Oktober-Januari permintaan bibit naik drastis. 'Lebih dari 5.000 bibit terjual setiap hari,' kata Rusnandi. Padahal, selain Rusnandi di Pasarmanis ada sekitar 10 penjual bibit yang juga besar. Pembeli tak hanya dari Ciamis, tapi juga dari Bogor, Cirebon, Wonosobo, dan Banjar. Rusnandi berkeyakinan peningkatan bibit sebagai dampak dari permintaan kayu yang juga meningkat terus.

Kayu sengon banyak diminta pasar seiring laju degradasi hutan yang mencapai3,8-juta hektar per tahun. Pada saat bersamaan, berkembang teknologi pengawetan kayu sengon. Kayu anggota famili Mimosaceae itu terbukti mampu bertahan hingga 40 tahun. Oleh karena itu pasar pun tertarik. Imbasnya bermunculan ke pekebun.

Libatkan pekebun
Hadi Pramono menuturkan sebelas tahun silam untuk menjual bibit sengon harus berkeliling dari pasar ke pasar di Temanggung, Magelang, dan Semarang. 'Sekarang tinggal menunggu di lapak,' ujar produsen bibit di Pingit, Pringsurat, Temanggung, itu. Setiap hari Hadi mampu menjual 5.000-10.000 bibit per hari saat musim tanam. Di luar musim tanam, jumlah itu baru habis dalam 5 hari.

Kadang-kadang Hadi juga melayani permintaan bibit dari perusahaan seperti Dharma Setya Nusantara (DSN) yang membentuk kemitraan dengan pekebun. Pengolah kayu sengon itu meminta pasokan 300-ribu bibit untuk disebar ke pekebun sengon di seluruh Temanggung, Jawa Tengah.

Dengan semakin banyaknya permintaan, Hadi kini bekerja sama dengan pekebun. Pekebun menyediakan lahan dan tenaga untuk pemeliharaan. Sementara Hadi memberikan benih, polibag, pupuk dan obat-obatan, serta sewa lahan Rp8-juta/ha/tahun. Imbalannya pekebun harus menyetor 400.000 bibit untuk yang memiliki lahan 0,5 ha dan 800.000 bibit untuk lahan 1 ha.

Tepat waktu
Lantaran permintaan bibit sengon bersifat musiman, produsen harus cermat memperhitungkan waktu. Agus Wakhid Hasyim, penjual bibit di Sidomulyo, Magelang, Jawa Tengah, sudah menyiapkan penyemaian pada Juli. 'Awal Agustus, maksimal benih sudah disemai agar bisa dipasarkan pada November. Jika telat sepekan saja, keuntungan bakal melayang,' katanya. Tahun lalu ia terlambat tanam benih 30 hari sehingga gagal menjual 20% dari jumlah bibit yang ditanam. Potensi kerugian mencapai Rp3,5-juta.

Wahid yang rutin memasok sebanyak 1-juta bibit per tahun ke DSN menjualnya seharga Rp800 untuk bibit setinggi 1 m dan Rp350, kurang dari 1 m. Dengan biaya produksi Rp175/bibit, ia meraih omzet Rp440-juta. Sedangkan keuntungannya Rp264.620.000 per tahun atau rata-rata Rp22-juta per bulan. 'Biaya paling besar untuk tenaga kerja,' imbuhnya. Setiap 100.000 bibit ia menghitung butuh 3 orang atau Rp100.000 per hari untuk penyiraman dan perawatan.

Jika memproduksi bibit membutuhkan waktu 4 bulan maka biaya yang dikeluarkan untuk tenaga kerja Rp12-juta. Biaya produksi lainnya meliputi sewa lahan Rp25/polibag, benih 4 kg Rp200.000, dan polibag Rp300.000. Meski begitu, usaha pembibitan masih mendatangkan margin yang lumayan besar. Apalagi jika bisa menyediakan solomon yang berharga tinggi dan banyak dicari pekebun, keuntungannya pasti selangit

No comments:

Post a Comment